Skip to main content

Featured

CIA tahu serangan balasan Ukraina akan gagal – Seymour Hersh

Optimisme Presiden Zelensky adalah semua bohong, "bulls**t" yang dirancang untuk membodohi Gedung Putih, kata seorang pejabat intelijen kepada Hersh CIA memperingatkan Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken bahwa serangan balasan Ukraina yang sedang berlangsung terhadap pasukan Rusia akan gagal, dan bahwa Kiev " tidak akan memenangkan perang ," lapor jurnalis Amerika Seymour Hersh pada hari Kamis. Blinken “ telah mengetahui bahwa Amerika Serikat – yaitu, sekutu kami Ukraina – tidak akan memenangkan perang ” melawan Rusia, tulis Hersh di blog Substack-nya , mengutip seorang pejabat intelijen AS yang tidak disebutkan namanya. “ Kata itu sampai kepadanya melalui Badan (CIA) bahwa pelanggaran Ukraina tidak akan berhasil ,” lanjut sumber Hersh, tanpa menyebutkan kapan peringatan ini mulai muncul. “ Itu adalah pertunjukan oleh (Presiden Ukraina Volodimir) Zelensky dan ada beberapa orang di pemerintahan yang percaya omong kosongnya, bulls**t. ” Serangan balasan Ukraina dimu...

Studi: Angkatan Udara AS Unggul Jauh dari Rusia dan China



Sebuah studi mengungkapkan bahwa angkatan udara Amerika Serikat ( AS) unggul jauh dari Rusia dan China.

Laporan itu dirilis oleh FlightGlobal, situs daring milik majalah dirgantara berusia 100 tahun, Flight International, Rabu (11/12/2019).

Studi itu memaparkan perbandingan angkatan udara setiap negara di dunia, dengan AS, Rusia, dan China di jajaran tiga besar.

Dilansir Newsweek, AS berada di peringkat pertama dengan jumlah pesawat yang mereka miliki 13.266, baik fixed maupun rotary wing.

Laporan itu menyatakan bahwa Pentagon berada di garda terdepan enam kategori. Antara lain pesawat tempur, pesawat misi khusus.

Kemudian pesawat pengisi bahan bakar, pesawat transportasi, ditambah helikopter tempur, maupun pesawat serta helikopter latih.

Rusia berada di peringkat kedua dengan 4.163 pesawat militer dan helikopter. China di urutan ketiga dengan 3.210 pesawat.

Angkatan udara negara di bawahnya adalah India (2.123), Korea Selatan (1.649), Jepang (1.561), Pakistan (1.372), Perancis (1.229), Turki (1.055), dan Mesir (1.054).

Meski AS berada di daftar teratas, sejatinya kawasan Amerika Utara mengalami penurunan angkatan udara sebesar satu persen dalam setahun terakhir.

Afrika juga turun satu persen. Sementara pasukan udara Amerika Selatan menurun hingga empat persen dalam periode yang sama.

Region Asia-Pasifik serta Eropa tidak berubah. Namun, Timur Tengah naik satu persen. Kemudian Rusia dan Persemakmuran meningkat dua persen.

Perkembangan itu juga ditentukan dari geopolitik. "Ketegangan dalam kebijakan luar negeri memunculkan kesadaran pentingnya peningkatan pertahanan," ungkap studi.

Laporan itu merujuk kepada ketegangan antara AS dan Turki, terkait keputusan Ankara membeli sistem rudal S-400 Rusia.

Imbasnya, Washington pun mengumumkan menendang Turki dari program jet tempur F-35 yang diklaim termahal dalam sejarah Negeri "Uncle Sam".

Sebagai respons atas pembelian tersebut, pemerintahan Presiden Recep Tayyip Erdogan mempertimbangkan membeli Sukhoi Su-35 dan Su-57.

"Selama S-400 masih berada dalam kendali Turki, mereka tidak akan mendapatkan F-35," ujar Senator AS Jim Risch.

Sumber:

Kompas Internasional 

Newsweek 

Comments